Hari ini banyak duka.
Membuat kedua mata menyiring karena kilatan ingat akan setahun lalu.
Saat kupikir impianku tergapai, padahal nyatanya baru saja termulai.
Bicarakan soal mimpi, mari...
Hidup termaknai sebagai proses mencapai dan menggapai,
sehingga jalan mulus mutlak lah menjadi buah harap.
Namun, sadarkah sadar bila menjadi tidak terlalu optimis itu perlu,
sebab kadang realita lebih bengis dari yang kita tahu?
Serah penuh pada Tuhan menjadi wajib, karena keyakinan adalah yang Ia buat saat kau meragukan. Namun, berlaku juga sebaliknya.
Melek lah akan pertanda Tuhan. Cara-Nya beri tanda itu beda-beda. Seringnya kita tahu, hanya kadang kita pura-pura tak tahu.
Kejar saja kejar! Lari sekuatnya. Sampai Tuhan sendiri yang menggelengkan kepala.
Semua semata karena masa depan yang tanpa persiapan itu namanya angan-angan.
Jangan pernah lupa, di atas segala kerasnya usahamu, doa itu segalanya. Pada siapa lagi kau titipkan harap kalau bukan kepada-Nya sebaik-baik pengabul doa?
Siapkan mental dalam berdoa. Allah selalu siapkan yang jauh lebih baik dari apa yang kita minta.
Jangan juga kau lupa, doa ibu itu sepatu untuk kau melangkah dengan diliputi berkah.
Alangkah baik jika kita merendah sedikit, Kawan!
Kadang semakin kita inginkan, tangan Tuhan akan membawanya pergi lebih jauh dari yang kita bayangkan.
Jika bukan milikmu, tak peduli peluh satu samudera pun tak akan menjadi cukup.
Namun, setidak-tidaknya, pastikan kau berjuang sampai akhir berjuang sampai habis.
Kita sama-sama tahu sesal itu tak ada harganya.
Percaya saja, sabar itu hadiahnya besar.
Hal yang baik dari lelah, kita tahu ada yang kita kejar dengan sungguh.
Mumpung masih hidup, sebelum mati. Mari mati-matian untuk menghidupi mimpi...
Jatinangor, 2014.
Minggu, 12 November 2017
Sabtu, 20 Mei 2017
#22
People are allowed to leave you.
People are allowed to not want to talk to you.
People are allowed to put their happiness before yours and do what makes them happy even if it does not include you.
People are allowed to not want you in their life.
People are allowed to do whatever they want to better themselves and become the version of themselves they are trying so hard to love.
Don't be bitter towards someone who is only trying to be happy. :)
People are allowed to not want to talk to you.
People are allowed to put their happiness before yours and do what makes them happy even if it does not include you.
People are allowed to not want you in their life.
People are allowed to do whatever they want to better themselves and become the version of themselves they are trying so hard to love.
Don't be bitter towards someone who is only trying to be happy. :)
Selasa, 24 Januari 2017
#21
Aku jatuh dengan ketidaktahuanku
yang membuatku belajar memahami,
juga mencintai,
segala hal tentangmu,
satu per satu,
waktu demi waktu.
Satu Ditambah Satu
Sepasang,
seperti mata,
seperti kaki,
seperti tangan,
seperti telinga.
Melihat lebih jelas,
berjalan lebih sigap,
menggenggam lebih kuat,
mendengar lebih peka.
Satu berfungsi,
dua sempurna.
Aku dan kamu,
menjadi kanan dan kiri.
seperti mata,
seperti kaki,
seperti tangan,
seperti telinga.
Melihat lebih jelas,
berjalan lebih sigap,
menggenggam lebih kuat,
mendengar lebih peka.
Satu berfungsi,
dua sempurna.
Aku dan kamu,
menjadi kanan dan kiri.
Minggu, 01 Januari 2017
Tahun Baru
Riuh,
hingar,
bingar,
di pusat kota,
sambut tahun baru.
Riuh,
hingar,
bingar,
di ruang keluarga,
songsong harapan baru.
Riuh,
hingar,
bingar,
di dalam kepala,
masih saja kamu...
hingar,
bingar,
di pusat kota,
sambut tahun baru.
Riuh,
hingar,
bingar,
di ruang keluarga,
songsong harapan baru.
Riuh,
hingar,
bingar,
di dalam kepala,
masih saja kamu...
Sabtu, 31 Desember 2016
Masih Sama
Masih tentang satu yang sama
yang hadir, tapi juga tidak
yang jauh, tapi juga tidak
yang tak ada, tapi nyatanya ada.
Jangan katakan ini semu,
kau tak pernah tahu ini benar terasa.
Jangan katakan sementara,
kau tak pernah tahu berapa lusa hilang terbang.
Ini bukan tentang satu atau seribu tahun lagi
Juga bukan tentang rindu atau tidak rindu
Ini tentang satu,
yang walau sanggup terpisah,
tak akan menjadi utuh.
yang hadir, tapi juga tidak
yang jauh, tapi juga tidak
yang tak ada, tapi nyatanya ada.
Jangan katakan ini semu,
kau tak pernah tahu ini benar terasa.
Jangan katakan sementara,
kau tak pernah tahu berapa lusa hilang terbang.
Ini bukan tentang satu atau seribu tahun lagi
Juga bukan tentang rindu atau tidak rindu
Ini tentang satu,
yang walau sanggup terpisah,
tak akan menjadi utuh.
Senin, 31 Oktober 2016
Sesederhana Pulang ke Rumah
Hidup saya kayak lagi digambarin lewat kejadian yang baru saja saya alami.
Hendak pulang, namanya juga pulang, sudah pasti tahu tujuannya ke mana.
Hendak pulang, namanya juga pulang, sudah pasti tahu tujuannya ke mana.
Tunggu bus di halte, tiba-tiba hujan deras. Haltenya ada tempat duduk, tapi kecil, nyaman-nyaman saja sebenarnya dibuat duduk, tapi tampias air tetap kena sedikit-sedikit.
Bus trayek tujuan saya kedatangannya tak pernah pasti, yang saya bisa lakukan hanya menunggu. Ah, kalau cuaca tidak hujan, mungkin bisa saja saya tunggu sambil jajan-jajan yang sebenarnya tidak mengenyangkan, tapi menyenangkan. Tapi nyatanya sekarang hujan. Melangkah satu, kuyup sebadan.
Diam. Menunggu. Tak tahu juga kapan datang. Tapi tetap ditunggu dan menunggu. Mau apa lagi? Saya mau pulang, tujuan saya miliki segala yang saya butuh. Pun bisa saja saya pilih bus tujuan lain yang sedari tadi sudah tiga yang lewat, menuju tempat yang tawarkan hal berbeda. Namun bukan rumah. Saya mau rumah.
Jadi diam. Menunggu. Melangkah basah. Pula tak tahu kapan datangnya. Tapi tetap menunggu.
Nah, busnya datang. Kaki kecil saya sontak berlari. Takut keburu pergi. Takut keburu penuh. Setelah bus datang, saya tak hirau akan hujan pun kuyup.
Bus saya datang! Akhirnya bus saya datang!
Di luar masih hujan, saya duduk di dalam dengan nyaman. Ah, mari menuju rumah. :-)
Jatinangor, 16 September 2016
Diam. Menunggu. Tak tahu juga kapan datang. Tapi tetap ditunggu dan menunggu. Mau apa lagi? Saya mau pulang, tujuan saya miliki segala yang saya butuh. Pun bisa saja saya pilih bus tujuan lain yang sedari tadi sudah tiga yang lewat, menuju tempat yang tawarkan hal berbeda. Namun bukan rumah. Saya mau rumah.
Jadi diam. Menunggu. Melangkah basah. Pula tak tahu kapan datangnya. Tapi tetap menunggu.
Nah, busnya datang. Kaki kecil saya sontak berlari. Takut keburu pergi. Takut keburu penuh. Setelah bus datang, saya tak hirau akan hujan pun kuyup.
Bus saya datang! Akhirnya bus saya datang!
Di luar masih hujan, saya duduk di dalam dengan nyaman. Ah, mari menuju rumah. :-)
Jatinangor, 16 September 2016
Langganan:
Postingan (Atom)