Tampilkan postingan dengan label Personal Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Personal Life. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Maret 2018

The Man I Met on the Bus

This morning, a father-figure sat next to me on the bus. Despite the hot weather, he looked genuinely happy. I cannot help but smile when I saw him.
Out of the blue, he told me that he just had a meningitis vaccine for himself. He will do Hajj this year.

Apparently, the next July Hajj is not his first time, but still, he cannot wait to go. This time is different, he said, because his son fully sponsors his this year's Hajj.

He then conveyed that he was surely happy knowing he could go to the holy city once more. Yet, his main reason for happiness was a privilege he still had, to be the door of Jannah, for his son.
Right after he finished his line, I cried... that made him laugh and say I was such a crybaby.

No wonder his ear-to-ear smile appeared on his face.

I wish I can be the same reason for my parents' ear-to-ear smile, someday.

Senin, 31 Oktober 2016

Sesederhana Pulang ke Rumah

Hidup saya kayak lagi digambarin lewat kejadian yang baru saja saya alami.

Hendak pulang, namanya juga pulang, sudah pasti tahu tujuannya ke mana.
Tunggu bus di halte, tiba-tiba hujan deras. Haltenya ada tempat duduk, tapi kecil, nyaman-nyaman saja sebenarnya dibuat duduk, tapi tampias air tetap kena sedikit-sedikit.
Bus trayek tujuan saya kedatangannya tak pernah pasti, yang saya bisa lakukan hanya menunggu. Ah, kalau cuaca tidak hujan, mungkin bisa saja saya tunggu sambil jajan-jajan yang sebenarnya tidak mengenyangkan, tapi menyenangkan. Tapi nyatanya sekarang hujan. Melangkah satu, kuyup sebadan.
Diam. Menunggu. Tak tahu juga kapan datang. Tapi tetap ditunggu dan menunggu. Mau apa lagi? Saya mau pulang, tujuan saya miliki segala yang saya butuh. Pun bisa saja saya pilih bus tujuan lain yang sedari tadi sudah tiga yang lewat, menuju tempat yang tawarkan hal berbeda. Namun bukan rumah. Saya mau rumah.
Jadi diam. Menunggu. Melangkah basah. Pula tak tahu kapan datangnya. Tapi tetap menunggu.

Nah, busnya datang. Kaki kecil saya sontak berlari. Takut keburu pergi. Takut keburu penuh. Setelah bus datang, saya tak hirau akan hujan pun kuyup.

Bus saya datang! Akhirnya bus saya datang!
Di luar masih hujan, saya duduk di dalam dengan nyaman. Ah, mari menuju rumah. :-)


Jatinangor, 16 September 2016

Rabu, 25 November 2015

Cerita dari Yogyakarta

Yogyakarta selalu memberi cerita, juga berita.

Cerita kali ini mengenai limpah kasih Tuhan yang tak pernah putus.
Kita saja yang harus peka bahwa bentuknya kan berbeda di tiap kedatangan.
Tuhan memang selalu punya cara untuk -pada akhirnya- memaksa hambanya untuk bersyukur.

Dan aku di sini, kembali bersyukur.
Terima kasih, Tuhan.
Terima kasih juga, Yogya.


Yogya, 22 November 2015

Selasa, 06 Januari 2015

Selamat 2015!

Jika analoginya satu tahun bagai satu buku.
Buku 2014-ku, mau tak mau, sudah kuselesaikan. 
Tidak ada yang selalu senang.
Hanya ada yang pintar tutupi pedih.
Tidak ada yang selalu sedih,
Hanya ada yang pintar berusaha riang. 
Bersyukur saja, dari sana siapa pun belajar.
Belajar bahwa manusia merasa hidup karena berusaha untuk hidup. 
Berdoa saja, semoga di masa depan siapa pun tersenyum ketika membaca ulang Buku 2014-nya. 
Terima kasih, 2014.
Kau kusambut, 2015. :)

Terima kasih 2014 atas Bali, Balikpapan, Turki, Jogjakarta, dan Korea Selatan.
Kakiku siap 'tuk tapaki tempat-tempat indah lain, 2015. :)

Sabtu, 31 Agustus 2013

Mimpi dan Pilihan

601808 10151932601457468 823574488 n 300x200 Hidup Bukan Pilihan
“Terkadang hidup akan menjadi lebih mudah jika kita tidak dihadapkan pada banyak pilihan, benar bukan?” 
― Devania AnnesyaUbur-Ubur Kabur

Memilih. Tak ada yang pernah dengan suka cita lakukan ini. Apalagi mengenai sesuatu yang tak pernah ia bayangkan. Ya, di sinilah aku, sedang benci-bencinya pada konsep abstrak yang manusia namai 'pilihan' ini. Juga terselip rasa benci pada diri, kenapa tampak seperti orang tak pernah diajar bersyukur.

Tak enak makan, tak enak tidur, karena merasa diri belum ada ketetapan pilihan, bukan karena tidak ada pilihan. Ya, aku benci ceritakan ini, benci kemukakan aku yang lalu sempat kufur nikmat.
Sungguhlah tujuh hari dalam seminggu bahkan lebih aku begitu tak karuannya.
"Semua pilihan baik, tinggal pilih saja salah satu. Selesai." seseorang pernah katakan. Menurutku tidak sesederhana itu. Entah, menurutku, pilihan ini yang akan menentukan akan bagaimana hidupku setelahnya, bahkan sampai mati. Yang sudah kutata bukan ini. Pilih apapun itu, aku harus menata dari awal, dimana setiap pilihan akan buatku tempuh jalan yang sangat berbeda-beda pula satu sama lainnya. Jadi, tidak tinggal pilih, bukan?
Ketika hati sudah tetap, restu orang tua tak digenggam. Untuk apalah, percuma, bukan? Karena, kuulangi, menurtku, ini bukan pilihan main-main. Soal masa depan, restu orang tua awal berkah Tuhan, dan berkah Tuhan yang tentukan baiknya kehidupanku. Soal ini aku tak berani coba-coba.

Dengan hati yang berusaha ikhlas, pilihanku pilihan orang tuaku, dengan sebuah harap akan keberkahan Tuhan alam semesta yang buatku nanti tersenyum, dan buat mama kini dan nanti tersenyum.

Hubungan Internasional Universitas Padjajaran, mari bersahabat untuk beberapa tahun perjuangan.
Sampai hari ini, hati mulai ikhlas dan syukur kepada Tuhan, diri rasakan tak salah pijak, merasa temukan habitat. (Akan) Hidup dan berkembang bersama insan berpemikiran hampir sejalan. Feels like I do really belong here. Dan bahkan detik ini, hati mulai cinta. Semoga rasa dan pikiran ini tak berubah. Berkah dan lindungmu selalu Tuhan, kupinta...

"Karena presentasenya 50:50, maka disebut pilihan. Kalau sudah memilih, jangan pernah kembali, buat yang 50 menjadi 100. Buktiin sama diri sendiri kalo pilihan kita nggak salah."
Aku sedang lakukan ini.

"Hidup menawarkan begitu banyak pilihan. Pilih serta jalani yang terbaik, dan jadilah seorang pemenang!" - Anonim
Kata Tuhan, ini yang terbaik. Dan aku sedang di jalanku untuk menjadi pemenang.

Selamat Tinggal mimpi yang kubiar berlalu. Mari menata ulang mimpi dan segala.
Dengan segala yang sudah mulai kutata kembali, kumulai ini dengan nama-Mu, Allah, Mahapengasih Mahapenyayang.
Baktiku untuk Indonesiaku.

Sabtu, 24 Agustus 2013

Great Giver, Indeed

Katanya, Allah itu adil. Entah, soal ini kini aku ragu, bolehkah? Bagaimana tidak, yang kualami sendiri Allah itu baik, terlalu baik, bahkan kelewat baik yang buatku ragu adilkah ini?

Ah, sungguh, yang kurasa sekarang, Tuhan itu layaknya kekasih. Ia senang merindu, tarik yang dirindu, saat yang dirindu datang mendekat, Ia berikan segala yang dipinta bahkan yang tak dipinta. Tuhan kelewat baik...
Atau mungkin, ini tanda marah Tuhan? Benci ketika kuucap rencana akan tapaki kaki ke bagian bumi lain jika memang bukan jalanku tempuh didik di negeri ini? Ke negara impianku belajar jurusan impian mama. Terdengar sangat baik, bukan? Namun, Tuhan tak suka tampaknya. Tak diizinkan sama sekali aku tapaki kaki di sana sekarang ini. Tuhan malah beri pilihan lebih baik, beri banyak pilihan mau tapaki jalur mana 'tuk sampai ke sana, bahkan pilihan yang tak pernah kupinta sekalipun. Tuhan cegah aku. Tuhan kelewat baik...

Satu yang memang dari dulu kuyakin, dan kini terjadi lagi; "Ketika hamba-Nya berpasrah, tangan Tuhan tak pernah gagal dalam kerja-Nya."
Ya, mana pernah sangka? Sudah sepasrah itu aku, sampai-sampai ku terakhir bicara pada Tuhan, "Tuhan, ya sudah lah, aku terserah pada-Mu, aku hanya ingin menjadi satu alasan dibalik senyum mama. Bawa aku ke tempat yang akan selalu buat mama tersenyum."
Dari keluar menangis dari rahim mama, tak pernah terpikir untuk tempuh didik di semua tawaran yang diberi Tuhan ini. Sungguh, jalan Tuhan siapa yang pernah tahu? Dan sungguh pula, benarlah memang, ridho Allah terletak pada ridho orang tua. Aku rasakan itu, sungguh.

Dari aku yang bahkan tak pernah lirik Bandung pinggiran, lalu aku yang setahun belakang antipati dengan jaket kuning, dan kemudian aku yang tak pernah tertarik dengan Kota Pelajar yang terkenal itu. Dan kini aku, yang bahkan masih merasa malu dan tak cukup pantas. Tuhan, Kau kelewatan...

Dan sekarang di sini aku teriakkan jutaan syukur juga ucapkan ribuan terima kasih untuk 'amin' yang kalian sumbang.
I thank you, reader(s).
I thank You, The Great Giver.

Kamis, 16 Mei 2013

Happy Birthday, Lifetime Hero!

16 Mei. Lima puluh satu tahun.

Hati yang terisi cinta tak lekang waktu dan doa terhangat untuk pria pertama yang sangat kucinta. Selamat ulang tahun untuk pria terhebat yang pernah kukenal, Papa.

Di hari bahagiamu, entah apa yang harus kupersembahkan, yang kutahu aku sangat ingin mengucap berjuta terima kasih padamu.
Ajarkanku nilai kehidupan beserta semua esensinya. Tunjukkan bagaimana sebenar-benarnya dunia; yang baik, yang buruk, semua terpilah dengan cara ajarmu. Ajarkan agar kaki selalu pijak bumi, sementara tangan selalu gapai matahari. Darimu, aku belajar banyak tentang kehidupan. Semakin aku tahu dan tahu, pun semakin aku tahu bahwa kau selalu lebih tahu. Tanpa patah katamu, entah akan seseok apa kaki kecil ini melangkah.
Terima kasih untuk cintamu yang lampaui kata bahkan imajinasi, yang lampaui bulan bahkan bintang-bintangnya. Cintamu yang selalu beriku kuat dan percaya akan aku. Cinta dan tawa, dua hal yang tak pernah habis kau beri, yang tak pernah gagal buatku menengadah syukur.
Terima kasih untuk baikmu yang tak pernah habis kau sediakan. Kau tak setitik pun biarkanku keliru langkah, jatuhkan air mata, dan rasakan takut. Sempat ku berpikir bahkan luas semesta tak lebih besar dari tempat kau tempatkan perbekalan baikmu itu.
Dan terima kasih karena menjadi tak hanya acuan, tetapi juga inspirasi. Inspirasi untuk segala. Pahlawan nyata. Simbol kearifan. Pembungkus setulus-tulusnya perhatian dalam sekokoh-kokohnya sosok.
Terima kasih atas segala yang kau sediakan, usahakan, dan berikan. Bungkuk apresiasi tak hingga untukmu, Ayah terbaik di dunia! :)

Ah, aku tahu, 'terima kasih' bahkan tak sebesar ujung kuku dibanding makna hadirmu. Sekeras apa pun aku mencoba, sebanyak apa pun yang ku persembahkan, mustahil imbangi kasihmu yang tak pernah kau hitung selama itu untukku.

Ya, pun aku tahu, di mana pun aku, siapa pun aku nanti, dan dengan siapa pun aku nanti, aku terus akan tetap menjadi gadis kecil Papa.
Dan kau pun harus tahu, sampai kapan pun, kau akan tetap menjadi pahlawanku.
Mari sama-sama tahu dan beritahu dunia bahwa ini sampai kapan pun. Ya, sampai kapan pun.

Ah, namun aku curiga kau tak pernah tahu cintaku begitu besar. Ya, karena kita berwatak sama; tak mudah gambarkan hati.
Namun, tak peduli bangga atau tidak kau miliki aku, yang harus kau tahu, aku selamanya bangga miliki kau sebagai ayah. Karena aku tak tahu bagaimana kau definisikan buah hati sempurna, namun, lagi yang harus kau tahu, kaulah ayah dalam definisi sempurna. :)
Hormatku untukmu selalu bertambah seiring bertambahnya tahun. Bagiku, kau bintang terangku yang sejati. :)

Menua satu digit, mengingatkanku pada helai-helai abu yang bertengger di bagian atas tubuhmu. Juga kerut yang tak lagi satu di wajahmu. Ah, tak perlu cemas, Papa, bahkan mereka buatmu tampak lebih tampan. :p

Kau begitu istimewa. Kamu adalah legenda, idola, dan sosok yang selalu kubungkukkan badan tanda hormat untuk yang tertinggi.
Kau adalah alasanku. Alasan aku menjadi aku, alasan aku dengan semuaku, alasan aku untuk masa depanku.

Sorai gembira selamati hari besarmu, Papa. Doaku, agar sehat rengkuh selalu tubuhmu, bahagia dekap selalu jiwamu.
Harap ocehanku ini sumbang satu senyum simpul di harimu ini. Bagiku, kau dan akan selalu kaulah nomor satuku.

Sekali lagi, selamat ulang tahun, Papa. Aku dan segala serpihku menyayangimu, dengan penuh. :)

Kamis, 28 Maret 2013

Your 18th Birthday

Dear Natika Rahmata Kadarusman,

March 28th is your special day. A special day is born just for you, to get you all your desires and shower you with joys too.
I'm wishing you superb health and prosperity all throughout your life. And I wish you have a lovely day filled with plenty of smiles and laughter. Birthday wishes and blessings are coming your way, dear.

I probably don't tell you often enough, but I do and will always treasure our friendship. You're a part of so many of my great memories.
And I want you to know how special you will always be to me, sweetie. Without you, life would just never be the same, indeed, girl.

I ask you to live your life to the fullest. Dream big, beyond the limits, and touch the sky. Say all is well and enjoy every single moment in your life, Tik.
You know, life is a huge stage. And you will give the best performance, I'm sure. You will win every possible opportunity that comes your way.
Don't you worry about the future, but promise me to let nothing change you except for the better, will you? :)

Ohya, I want to tell you that something saddened me when I woke up this morning. It was me who realize that next year we'll be on our own path, live our own life as our own self dream it. (Amin). And there will come something sucks called 'distance'. Ah, Life must be a bit boring when you're not around. Spending two years, dan nyaris tiada hari tanpa kamu, even weekend sekalipun. Ya, life does change.
Huwah, But don't you ever worry, no matter how far and how busy future brings us, you'll always have a special place deep in my heart, I promise. And I wish, today won't be the last time I see you blowing your birthday candle right in front of my own eyes. I do really wish....

And last, I wish this post brings a smile to your face and a twinkle to your eye, because happiness is what I've always wished for you. Wishing you happiness today, tomorrow, and always! Have a brilliant eighteenth birthday to my bestie, Natika Rahmata Kadarusman! I love you, always.
"Ingat, sejauh apapun kau melangkah, tempat kau pulang selamanya di sini."

Rabu, 25 Juli 2012

Until We Meet Again

Ketika kau mulai benar-benar paham mereka yang terbaik yang pernah ada. Ketika mereka telah mengambil banyak porsi dalam hati bahkan hidupmu. Ketika mereka maknai hidupmu lebih dari banyak. Ketika nyatanya banyak yang sudah dicecap indah bersama mereka, namun terlalu adiktif terasa ingin lagi dan terus lagi.
Ketika itu pula kau sadar, mereka sudah akan bersiap menyebrang....dengan kapalnya masing-masing, yang siap antarkan mereka berlabuh di pulau impian mereka.
Dan ketika pula itu kau sadar, yang bisa kau lakukan adalah tersenyum dan melambai perpisahan sembari berbicara pada Tuhan "Jaga terus mereka dalam jalannya masing-masing". Selalu kuharapkan yang terbaik untuk mereka yang terbaik.


Utari, Hazna Nurul Faiza, Muhammad Ilham Ramadhan, Adnil Nuril Fahmi, Rizky Alfiandry, Yassier Iswanto. Terimakasih sudah pernah membiarkan mengenal kalian. Terimakasih sudah pernah membiarkan kalian menjadi bagian dari masa yang mereka sebut masa-masa paling indah, SMA. Terimakasih.
Tidak, tidak akan kusebut ini perpisahan. Jadi, sampai jumpa. Sampai jumpa dalam sebuah periode waktu yang mari namakannya dengan 'masa sukses' kelak. It's not goodbye, but 'till we meet again. High school never ends.
Much love from here, seniors!



Kamis, 31 Mei 2012

Overthinkin

This is happened when you a bit ignore your life because of (over)thinking about other's (future) life.
These 2 best human beings who I love the best's.

"You think too much", someone said to me. "How come you think about the things that they may not even think about it?!"

I'm worried. Extremely worried, yes I am. And it's terrible.
Then it leaded us to a longer conversation...

Beliau :  "It haven't even happened yet"

Saya :  "Yap, but...can you tell me how to face your beloved people when they show you a look of disappointment or depressing face? Because I just won't ever be able to stand it for even once."

Beliau :  "But you either won't ever be able to 100% avoid a-n-y-o-n-e from being hurt"

Saya :  "So, what should I do?"

Beliau :  "It's supposed to be my question, what do you expect yourself can do for them? What do you want to do?"

Saya:  "I'm not telling you this if I already know exactly what to do"

Beliau :  "No matter how special they're to you, or how special you're, Human is human. Not perfect. And once again I repeat, will get hurt no matter how, and so are you, you're human and you'll also get hurt, no matter how."

Saya :  "That's the current point, what will I do if my thought comes true? When the day that they get hurt comes and I can do absolutely nothing later? It will feel 'errrrrghhh'."


Beliau :  "Even the beautiful thing like crystal can be broken, loh! Do the parents who love their children in amazing amount keep their children in the bubble so that their children won't get hurt? No, it's not life.
The more you socialize, the more hurt you get. You have to get hurt so that you can learn the life lesson, grow up, and survive eventually, and that's what you called the real life."


Saya :  "I'm just worried. Really. How do you feel if people who you love that much are in that state?"

Beliau :  "Why worry? You're supposed to know that there's the one who loves them more than you do, do you know who's it?"

Saya :  "Absolutely yes, their parents do."


Beliau :  "NO! God does. Are you doubting the power of God?"


Saya :  "Of course not! God won't worry, I mean"


Beliau : "And that's the point! God won't worry because God exactly knows what's best for them. And God loves them more than anyone, anyway. So, let God protect them. What else to worry about then?"


Saya :  "Still, I feel like I also take the responsibility if my thoughts happen. And if there's nothing I can do, it will feel more terrible."

Beliau :  "No, you're not supposed to feel it! No matter who they are to you, when you'd already reminded and admonished them, your responsibility as a human are done already. Because the most-things-do in life is to survive, hence there's not your responsibility to keep them survive. And you know exactly that nothing last forever, so give them the things that can be kept for their lifetime, called moments and life lessons.
And, by the way, you obviously often listen and read many quotes about life, don't you? So do they. And the quotes really aren't just bullshit, it's just about how you apply it in the real life. Everybody knows all the consequences of life. Life isn't that simple, indeed, so you have to learn how to simplify it."


Saya :  "How about "nothing I can do" matter?"


Beliau :  "Then what do you want to do? Tell the whole world to not hurting them? Does that make sense? Come on, you start loving them on the wrong way!"


Saya :  "I think I don't. I just keep doing something good for others in the hope that God will reward all someday when I really need, though not from the people I've given that good things to."

Beliau :  "Are you expecting reciprocation?"


Saya : "Is it wrong if I expect God's rewards?"

Beliau :  "Do you mean you wish someone will keep doing something good someday for you and ignore his/her life?"


Saya :  "What do you mean?"


Beliau :  "Yea, it's you. You just ignored your life by thinking about others. This is the wrong part. You have your own life! Who will think about yours but yourself?"


Saya :  "Did I...? Is it wrong if I think about them?"

Beliau : "Not at all. But it will be wrong if you start to not thinking about your own life. They definitely will survive eventually, in the right time. You can't force the ugly cocoon turns into a beautiful butterfly if it's not the time yet, so is the life.
And the more worries you grow means the less faith you have to God."

Saya :  "What if I do worship to God with the aim of praying for their good? Isn't it not allowed?"


Beliau : "Who says? You're allowed for sure. It has the same meaning with trusting God to handle their business because you know God will give them the very best, hasn't it?
You've already gotten the point, then"

Jumat, 07 Oktober 2011

Candu

Being with you is addictive. Your soft voice. The warm feeling when you're right here beside me. The way you put your arm around me. The way you pinch my cheeks. The way you tease me then hug me tight afterwards. The way you stop my tears with your hug and (super) words. The way you make me smile and laugh. The way you mess my hairs. Another warm feeling when I lay my body on yours. Your laugh and stupid comments after listening my whines and moans. The way you put the helmet onto my head. Too much 'the way' of yours that I love. I've already addicted to that feeling when I'm with you. Makes me want to spend more more and more times with you.
Time together isn't ever quite enough, this is so true! I desperately need you, don't ever make me learning to no need you. And yes, times will get hard, just believe me that we'll have it good.
I love you, not-so-big panda bear! <3