Tampilkan postingan dengan label Dear You. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dear You. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Januari 2017

#21

Aku jatuh dengan ketidaktahuanku
yang membuatku belajar memahami,
juga mencintai,
segala hal tentangmu,
satu per satu,
waktu demi waktu.

Satu Ditambah Satu

Sepasang,
seperti mata,
seperti kaki,
seperti tangan,
seperti telinga.

Melihat lebih jelas,
berjalan lebih sigap,
menggenggam lebih kuat,
mendengar lebih peka.

Satu berfungsi,
dua sempurna.

Aku dan kamu,
menjadi kanan dan kiri.

Sabtu, 31 Desember 2016

Masih Sama

Masih tentang satu yang sama
yang hadir, tapi juga tidak
yang jauh, tapi juga tidak
yang tak ada, tapi nyatanya ada.

Jangan katakan ini semu,
kau tak pernah tahu ini benar terasa.
Jangan katakan sementara,
kau tak pernah tahu berapa lusa hilang terbang.

Ini bukan tentang satu atau seribu tahun lagi
Juga bukan tentang rindu atau tidak rindu
Ini tentang satu,
yang walau sanggup terpisah,
tak akan menjadi utuh.

Rabu, 06 April 2016

Kepada Ayah

Assalamualaikum, Papa...

Banyak bincang yang lalu pernah kita lakukan perihal penutup kepala
Tersirat tersurat kau selalu pinta secepatnya
Tersirat tersurat aku pernah bilang biar aku yang memilih
Tersirat tersurat kau mungkin putus asa dengan secepatnya yang kau pinta
Tersirat tersurat aku pernah bilang jangan batasi apa yang menjadi mimpi

Sampai suatu hari aku benar-benar sadar hijab bukanlah pilihan
Sampai suatu hari aku benar-benar sadar aku belum bisa memberimu apapun
Sampai suatu hari aku benar-benar sadar aku hanya memberimu beban dosa
Sampai suatu hari aku benar-benar sadar aku justru perapuh pundakmu...

Kini aku pilih hijrahku
Meski hanya sejengkal, meski hanya sekedar hasta
Semoga dapat sedikit menenangkanmu
Semoga dapat sedikit meringankanmu
Semoga..


P.s.: Ijinkan aku menjagamu, setidaknya berdoa, semoga hijrahku dapat meringankan sedikit bebanmu


Bekasi, Februari 2016

Sabtu, 02 April 2016

Masih Ada

Bila ada yang berkata aku sedang jatuh hati
Anggap saja itu benar adanya
Bila ada yang berkata aku sedang patah hati
Pun boleh menganggap seperti itu adanya

Cukup percaya saja bahwa aku berada di sekitar
Selama yang kumampu, selama yang kumau
Dan tentu saja, selama kau butuh

Bila esok kan ada yang berakhir
Semoga yang hilang bukan sesuatu yang baik
Tak pernah ada awal tak berarti tak tahu ke mana segala ini menuju
Perihal nantinya akan benar bersama atau sekedar beriringan, biar saja dulu, ya?

Bahagiamu membahagiakan
Sesakmu menyesakkan
Aku ada dan masih ada di sekitar
Bahkan belum juga mau beranjak

Tetaplah berada di situ
Menjadi manusia yang selalu kucari
Tetaplah seperti itu
Menjadi sesosok penenang dalam ramai yang begitu penuh
Tetaplah menjadi dirimu
Hingga kau tak pernah lupa ke mana harus pulang.


Jatinangor, 2 April 2016

Senin, 29 Februari 2016

Kali Pertama

Lucunya, yang kali ini aku rela gantungkan hati pada sesuatu yang tak kuketahui ujungnya.
Sungguh, ada yang memang tak perlu dipaksa, sebab ia akan terjadi dengan sendirinya.
Aku tak pernah bosan, meskipun harus mendoakan kebahagiaanmu setiap harinya.
Kadang, cinta bisa setulus itu, kan?

Ya, rasa-rasanya aku jatuh cinta.
Pada seraut wajah yang tak pernah terlupa. Pada sesosok diri yang bajik juga bijak. Pada sebait senyum yang membuat hati seringan awan. Pada suara yang terus terngiang.
...pada kamu.

Kamis, 18 Februari 2016

Perkara Tuhan dan Semesta

Semesta selalu punya cara bagaimana aku harus bersabar tuk bisa bertemu dan berbincang banyak hal denganmu.
Meski terkadang ingin berkata cukup, namun ternyata keinginanku lebih dari itu.
Aku tahu kamu paham bagaimana lantunku dalam kata masih setia menunggu tuk mengalahkan jarak tak menentu.

Terima kasih pada apa yang aku temui hari ini, semuanya menguatkan keyakinanku yang kemarin sempat rapuh.
Percayalah, tak ada rindu yang tak jatuh kepadamu.
Sejauh-jauhnya kau berada, kata Tuhan Keberadaanmu hanya sedekat doa.
Untuk perihal waktu, mari biar Tuhan saja yang beri tahu...

Selasa, 16 Februari 2016

Bandung Hujan

Setiap inci tubuh berdendang diiringi hujan
Aku rasa hujan Bandung berirama
Hingga Bandung tak perlu cerah tuk buat sepasang lantunkan rasa

Kau nikmati setiap hisapan cerutu
Tersenyum dengarkan aku yang menggerutu

Malam jadi dibenci karena pisahkan raga
Padahal lidah belum (dan tak pernah) habis kata

Seringkali aku me-reka sembari bersenandung
Tentu saja dengan mata terkatup
....
Rasanya manis...

Terima kasih buat kami kembali jumpa
Sampai buat tak bisa lupa
Bandung memang selalu buat cerita
Mulukkah bila kupinta yang ini selamanya..?


Bandung, Oktober 2015

Sabtu, 25 April 2015

Bantuan Sedikit Untukmu, Tuan

One day, I asked my best boy-friend to give advice to my future partner.
Then he answered with.....

"Well, hallo pangeran tampan nan rupawanya Nadia Anindya yang masih otewe!
Sebagai pembukaan, gue pengen ngucapin Turut berduka cita atas nasib dirimu yang menjadi pendamping hidupnya Aya, knp? Karena sudah dapat dipastikan bahwa dirimu akan mendapat byk pesaing yg jg mengejar ngejar untuk mendapatkan hatinya Aya.... yak prokprokprok 👏👏👏👏 selamaat. tp jangan khawatir, sebagai kawannya Aya, disini gue akan membagi sedikit banget pengetahuan gue dalam menghadapi Aya supaya nantinya lo akan tangguh dan kuat berada dalam hatinya Aya. Yeah!
Pertama,
banyaklah bersabar dengan Aya, kenapa? bidadari asal bekasi yang amat kau cintai ini adl manusia super sibuk. Aya bukan lah tipikal manusia yang betah ngga ada kerjaan di hidupnya macem pengangguran friksional jangka pendek. Makhluk kaya dia adalah tipe manusia yang punya banyak impian yang pengen dicapai, jadi udah pasti bakalan banyak banget hal yang ia lakukan pas mudanya kaya skrg ini. Saran dari saya adalah, beri Aya pengertian sebisa mungkin, jangan takut akan waktu untuk lo ilang, karna sesibuk apa pun Aya, pasti akan menyisihkan waktunya untuk org yang emang penuh arti bagi dirinya *uwaaaaaw*. Lalu, mungkin Aya tuh keliatan sok wanita independen gidudeeeeh.... tp, Aya tetaplah wanita (ceilah), she needs ur support no matter what. Tp sebagai gantinya, Aya jg bakal mendukung dan percaya dengan diri lo yg punya mimpi apa pun itu meski diri lo sendiri ragu sama mimpi itu (asik)
Yang kedua,
Doi mah genius. Titik. Wkwkwk doi ngga usah lau suruh suruh belajar dah, doi dah pinter dr orok kayanya. Dari dulu ane berkawan ama Aya ngga pernah ngeliat doi kebingungan soal belajar. Jadi, bidadari lau ini bisa jadi tempat untuk mengadu soal ilmu wkwkwk.. yaaa itu juga kalo lau masih satu dunia perilmuan ama doi. Tapii, meski demikian, gue tetep berharap lo adalah orang yang cerdas dan berwawasan luas yang bahkan lebih dari doi, karna Aya pernah bilang kalo dibuat naksir karna otak lebih melekat dibandingkan dengan wajah... eaaaaa.... Terus disamping itu, Aya tipe orang yang sangat kritis, bahkan Aya suka mempertanyakan hal yang menurut orang lain ngga perlu dipertanyakan, yap itulah bidadari bekasi lo, unik bukan? Haha mungkin hal apa itu akan lo ketahui kl lo kenal langsung dengan beliau. Sejujurnya gue jg udh mencoba menjawab dan berharap suatu saat bisa bantu menjawab tapi apalah daya duh..... ilmu mentok cyiiin. Wkwkw, jadi yaaa gue berharap mungkin suatu saat lo yang bantu beliau mungkin? ;) yeah prokprokprok 👏👏👏.
Terus, ini nih yang paling krusial goks! Aya tuh tukang makan! Goks! Bagi aya makanan adalah kehidupan, jadi sopasti siapin diri lo untuk tangguh dalam memakan apapun bro!!!
Ps: jangan kawatir dan jangan cemburu dg gue, cz i'm too awesome, jadi org kaya gue ngga masuk tipenya aya yeah prokprokprok👏👏👏 wkwk ✌ See u soon!!"

Terima kasih untuk Andika Rizki.

Semoga sedikit banyak bisa membantumu, Tuan yang Belum Datang.
Sampai ketemu! :) 

Selasa, 04 November 2014

Terburu Rindu

Selamat Malam, Tuan.
Maaf, sapaanku di surat kali ini kupanggil kau "Tuan", tak apa? Karena sungguh, aku tak tahu harus memanggilmu apa. Nyatanya jika dihitung dengan angka, kau kini lima-tahun-mendatangku.
Benarkah lima tahun? Bukan kuragu, hanya mempersilakanmu datang tanpa diburu waktu. Tak ada yang akan sempurna jika terburu. Juga, tak ada yang suka diburu-buru, benar? :)

Seperti di pucuk sebelumnya, akan kembali kutanya kabarmu. Kali ini, apa kabarmu, Tuan? Kuharap primamu di segala kondisi tentu saja.
Impian dan cita-citamu tak menunggu, jangan berhenti. Kau lebih hebat dari yang kau pikir, jangan khawatir.
Kuselipkan lancarmu dalam doa akhir sujudku. Pun kau jangan lupa bersujud demi lancarmu, Tuan. Tak ada yang lebih baik dari ikhtiar keras yang diiringi dengan doa lembut, bukan? :)

Sebelum tanganku bisa gapai, tolong perhatikan sehatmu sendiri. Mengabaikan sehatmu sama dengan mengabaikan masa depanmu, tahu?
Tak muluk-muluk, kuharap kau makan teratur dan tak sering begadang. Aku tahu kau pekerja keras, namun selipkan olah raga di jadwal sibukmu akan baik.
Akan kubayar permintaanku ini dengan kesediaan menjaga sehatmu di hari yang kita sama-sama nantikan. Sajikan menu sehat dengan kesediaan temanimu menyantap, juga berolahaga dengan kesediaan lakukannya bersama.
Menyenangkan? Kuharap. :)

Tuan, bagaimana hari-harimu? Adakah yang menemani? Tak usah ragu, katakan saja jika ada.
Justru aku akan senang kau tak merasa sendiri. Paling tidak, sebelum aku yang tak akan bosan melakukannya setiap hari nanti, ada yang bersedia dengarkan keluhmu saat ini.
Pintaku, tolong perlakukan dia sebaik yang kau sanggup. Tak ada ayah yang inginkan putri kecilnya tidak diperlakukan selayaknya putri. (Kau tahu apa yang kumaksud putri di sini). Begitu pun denganmu kepada putri kecil kita kelak, bukan? :)

....
....
Bagaimana denganku?
Ah.... Bolehkah kujawab dengan "Aku rindu padamu"...?
Bahkan kita belum pernah bertemu? Jangan tertawa....
Aku rasa detik ini (atau akhir-akhir ini) aku benar rindu padamu.
Kuberitahu, aku tidak sedang memulai cerita sedih, tenang saja.
Sungguh, detik ini (dan akhir-akhir ini) aku sedang sangat akrab dan nyaman dengan kesendirian. Aku mulai suka dengan perasaan tidak "dimiliki" oleh siapa pun.
Lakukan apa pun yang ingin kulakukan, siapa yang larang? Jumpa dengan siapa pun yang ingin kujumpa, siapa yang marah? Menyenangkan.
Mungkin ada yang kira ini penyangkalan, silakan, nyatanya ini yang benar-benar sedang kurasakan.
Hingga, kurasa tak ada yang perlu atau harus kurindukan saat ini (selain kamu).
Bodoh? Biar saja. Toh bodohku tak pernah kugunakan untuk membodohi orang lain.



....
Ya, kau boleh menasihatiku untuk tidak membiarkan hati semakin dingin. Tapi kau tahu, ini aku. Ini aku yang semakin usia semakin tak mengerti bagaimana itu.... jatuh cinta.
Yang semakin kumengerti, rindu bagian dari cinta, namun rindu bukan berarti cinta. Kenyataan ironis bahwa yang kupahami justru hal ironis. Hingga, kau tahu? Kenyataan ironis lain aku setidak mampu itu bedakan "terbiasa", "butuh", "ingin", dan "cinta".

Jangan tersenyum pahit begitu, aku tidak putus asa, justru menjadi semakin penasaran bagaimana rasanya bertemu denganmu nanti.
Ya, aku tak sabar dibuat jatuh cinta (lagi?).
Tak sabar dibuat memuja satu makhluk Tuhan.
Tak sabar dibuat rindu walau hanya sedetik tak temu.
Tak sabar dibuat benci karena saking peduli.
Tak sabar dibuat haru tanpa dibuat biru.
Pun tak sabar dibuat terus senyum bak orang yang terlalu banyak minum.


Tak sabar berdiskusi berbagi pandangan karena wawasanmu yang kupuja.
Tak sabar mengenyangkan isi kepala karena intelektualmu yang menaklukkan.
Tak sabar menjadi aku, yang selalu benar-benar menjadi aku, ketika di samping kamu yang tak ragu menjadi benar-benar kamu ketika di sampingku.
Tak sabar menceritakan hari selelah dan serumit apapun isi kepala, karena hanya dengan berbincang saja terasa menenangkan juga menyenangkan.
Juga tak sabar bersujud penuh syukur akan kehendak-Nya menghadirkan kita yang aku dan kamu.

Aku tak bilang hanya kau yang bisa lakukan.
Mungkin ada yang lain, mungkin.
Tak menutup mungkin, dalam perjalanan menemukanmu aku menemukan ia yang bisa lakukan.
Atau tak menutup mungkin, ia yang kutemukan diperjalananku itu sebenarnya kamu.
Bagaimanapun mungkin yang ada, satu yang pasti, tak ada yang akan seindah ketika kurasakan denganmu, nanti.

Hingga kusimpulkan, jika kesendirian kini adalah ujian untukku agar aku lebih bisa menjaga kehadiranmu nanti, maka akan kulakukan dengan lebih senang hati. Walau aku tahu, “nanti” itu tak pasti.



Jangan terburu-buru.
Aku hanya rindu.
Sampai bertemu!



Tertanda,
Rumahmu.

Bagian ketiga dari "Apa Kabar?" dan "Tujuh Tahun"

Kamis, 06 Februari 2014

Hari ke-365

Kepadamu, 
Sudah 2014 rupanya. 2013 sungguh berlalu begitu cepatnya. Memasuki angka satu satuan tahun kita bersama. Walau sebenarnya semenjak denganmu aku tak suka menghitung. Ah, ya, aku memang terlalu menikmati setiap harinya, sibuk membuat cerita untuk kita ingat kembali dengan senyum yang rekah suatu saat. 
Hal yg paling indah memang memutar waktu ketika kumulai hari bersamamu. Tak terasa kita sudah lewati dan lakukan banyak hal yang tak terduga olehku, mungkin olehmu juga. Mari kuajak, mumpung jejaknya masih tampak... 
Aku senang menyayangimu dengan mengingat-ingat hal lawas yang pernah kita lalui -sampai hari ini- dan aku bersyukur karenanya, karena entah bagaimana, itu menjadi energi tersendiri untuk seorang aku.
Bulan demi bulan, tentu kita tahu tak ada yang mudah dari setiap perjalanan, apalagi yang berjarak. Pertengkaran, tentang ketidakmampuan menhadapi rasa cemburu atau hal-hal sepele yang berasal dari perbedaan pola pikir kamu yang laki-laki dan aku yang wanita. Tentu saja kadang lelah atau jenuh. Namun ternyata yang selalu kita butuhkan hanyalah tenang kemudian kembali menang mengalahkan rasa-rasa itu.
Dan tibalah kita di sini setelah beberapa bulan berjalan. Terima kasih untuk selalu bersedia ada, terima kasih untuk menjadi lembut yang selalu kurindu, terima kasih untuk menjadi lelaki yang merangkap segalanya, dan terima kasih telah dengan begitu sabar hadapi keras kepalaku yang mungkin batu saja kalah. 
Mengingat hari ke belakang, aku sadar aku bahagia, pun aku banyak mendapat pelajaran dari kebersamaan yang sederhana. Dan aku pun sadar bahwa detik Tuhan memang tidak pernah terlambat pun tidak pernah terlalu cepat. Terima kasih sudah menggenggam tanganku, terima kasih telah mengajarkanku banyak hal, terima kasih telah menyimpul senyumku berulang-ulang kali. :) 
Sungguh tak ada yang ingin kuselesaikan hari ini. Tulisan ini akan kubiarkan bersambung. Tak ada yang akan tamat, karena aku menginginkanmu melebihi hari ini. 
Mari bergenggam dan terus mendayung. Jika lelah, mari istirahat bersama. Jika jenuh, mari kembali ingat hari-hari indah yang sudah dan akan terjadi. 
Hai ke-365. Ribuan syukur atasmu pun ribuan terima kasih untukmu, Bima Azhar Nugroho.
Aku, menyayangimu dengan segala egoku.

With love 

Sabtu, 14 September 2013

Pada Hujan

Pada butir hujan aku titip pesan, sampaikan padanya semangat tak boleh luntur.
Pada angin hujan aku titip rindu, sampaikan padanya aku idamkan temu.
Pada awan hujan aku titip dekap, sampaikan padanya aku masih hangat.
Pada derasnya hujan aku titip rasa, sampaikan padanya ini sama derasnya.
Pada hujan, kutitipkan segala, tolong sampaikan.

Selasa, 25 Juni 2013

Apa Kabar?

Kamu, tujuh-tahun-mendatangku,
Ah, lama, ya, tak bincang lewat kata. Kabar baikkah?
Ya, tertawa saja jika kutanya kabar. Tak apa pula, bukan, jika kini tak tahu-menahu kabar? Toh, romantis bukan bisikkan kabar tiap saat, cukup saling pinta dalam diam agar dijadikan satu saat siap nanti. Namun, tetap saja terus kuharap primamu di setiap waktu. Baik-baik, kumohon.

Kamu, yang ternyata-mungkin-lebih-atau-bahkan-kurang-dari-tujuh-tahun-mendatangku,
Bagaimana kau lewati harimu? Bagaimana usaha gapai (aku yang) masa depanmu? Berat, ya? Tak pernah ada yang katakan itu akan mudah jika perihal yang mendatang. Namun, ingat, yang mendatang menanti. Jangan pernah nikmati tiap jatuhmu. Terus berjuang, kumohon.
Bayangan tentang yang mendatang jadikan saja semangatmu.
Miliki selalu pelukan di tengah hingar bingar perseteruan isi pikiran.
Miliki selalu genggam yang menguatkan, bukan melepaskan.
Miliki selalu hati yang mengerti, tidak memaksakan.
Miliki selalu dekap yang tak pernah membiarkan, tapi mengiringi sampai tujuan.
Pun ingat, miliki selalu senyum yang menjadi hangat sekaligus sejuk.
Saling memenangkan. Saling menyelamatkan.
Masa yang menyenangkan. Masa yang menenangkan. (Amien)

.....
Maaf, tadi kau bergumam apa? Aku sendiri bagaimana?
Pun di sini sama: tak mudah. Namun, entah, manjakan lelah juga jenuhku tak pernah lebih menggiurkan dari perjuangkan masa depanku (yang ada kamu).
Kerahkan seluruh kemampuan 'tuk cipta kemampuan yang lebih pantas.
Biarkan dulu saja lah aku. Semuanya untukmu, tahukah?
Murni bukan untukku berbangga, melainkan untukmu berbangga, setelah orangtuaku. Karena sungguhlah, kemampuan sebenarnya bukan ajang perempuan (sepertiku) untuk menyombongkan diri, tapi 'tuk menggandeng tangan laki-laki(ku) agar tak kerepotan sendiri. Karena masa depan sudah tentang dua orang, bukan?
Mengerti, ya, kumohon.

The woman is the reflection of her man.” — Brad Pitt
Bacanya buatku malu (dan tidak pantas). Entah, kamu yang (semoga) baik akhlak, hati, juga imannya, akan dikatakan apa jika berdamping aku? Bahkan aku akan bingung setengah mati jika Tuhan tetap pilihkan aku untukmu.
Akhlakku masih jauh dari sempurna, lalu bagaimana bisa aku dipilih Tuhan 'tuk jadi pendampingmu?
Bacaanku masih fiksi kacangan dan bukan Al-Qur'an, lalu bagaimana mungkin aku bisa menjadi tuntunan bagi anak-anakmu?
Tubuhku masih belum terjaga sempurna, lalu bagaimana mungkin aku bisa menjadi rumah yang aman bagimu?
Hatiku masih penuh dengan iri pula angkuh, lalu bagaimana mungkin aku bisa menjadi penyejuk hatimu?
Tanganku masih malas bantu sesama, lalu bagaimana mungkin aku bisa menjadi tangan kananmu bangun rumah tangga?
Telingaku masih suka dengar yang jahat, lalu bagaimana mungkin aku bisa menjadi pendengarmu yang baik?
Lisanku masih suka banyak bicara pula berkata tak layak, lalu bagaimana mungkin aku pantas menjadi pelipur laramu?
Masih jauh perjalananku agar pantas menjadi pendampingmu. Bersabarlah, kumohon.
Mari anggap ini menyenangkan, menunggu janji-Nya yang tak pernah ingkar, dalam usaha menjadi ikhlas dan taat.
Aku hanya harap, semoga kita ada dalam satu ego nanti: ingin saling memiliki, selamanya.

Sungguhlah, bukan aku diam, Dia tahu betapa aku selalu ribut dan berisik memintamu dalam sujud panjang di akhir rakaat.
Pun bukan aku diam, hanya saja takdir masih menuntut kita 'tuk berjalan lebih lama.

Kau pun tahu, menemukan hanyalah perihal waktu.
Namun, keyakinan justru yang nyatanya bukan perkara waktu. Keyakinan bahwa masing-masing adalah yang terbaik untuk masing-masing.
Karena pada akhirnya hidup memang hanya perihal mencari jalan terbaik menuju mati, juga yang terbaik sebelum mati.
Sekarang kutanya, apa yang ingin kau capai dalam hidup?
.....
.....
Kalau aku, jadi yang kau gapai sebelum mati. :)

Sekian dulu, sudah larut. Selamat tidur, Tuan.
Aku akan sedia di sisi ragamu suatu masa, setiap lelapmu, pun terjagamu.
Dan jadilah satu yang kubangunkan Subuh-nya, lalu jadi Imamku, selamanya...


Tertanda, Rumahmu.

Bagian kedua dari "Tujuh Tahun"

Kamis, 20 Juni 2013

Untuk Kamu yang Kutuju

Untuk Kamu yang Kutuju,

Jika kau kini lihat senyum ini indah, tolong sampaikan terima kasihku pada lelaki dalam cermin itu.
Kuakui, kita memang dua kepala yang sama keras, namun kupastikan kita pun dua hati yang sama rasa. Mungkin lusa kita akan bertengkar, tetapi kamulah, sayang, yang kupeluk sekarang.

Katanya, semakin jatuh cinta, semakin keras pula usaha perbaikan diri agar pantas mendampingi yang terbaik.
Ini gila, tapi nyata. Alam bawah sadarku seolah paksaku lakukan itu, sedikit demi sedikit. --Ya, senyuman khasmu kupersilakan--
Ada yang menarik tentang ini:
Bersamamu, bermimpi dan berencana tak kurasa takut. Entah, segalanya terasa mungkin dan dekat sekali. Sekali lagi kuulangi, entah. Ya, tenang saja, ini masih aku yang seringkali adu keras denganmu karena jalan pikir terlalu realistisku.
Mungkin karena kau layaknya pagi yang tidak pernah berjanji namun datangnya hampir pasti. Hingga bukan pada kata dan janji manismu, namun pada kesabaranmu menjaga rasa, hatiku tertuju.
Atau mungkin karena katanya, wanita pada akhirnya akan jatuh pada peluk mereka yang menjadikan dirinya prioritas. Dan lakumu tak pernah gagal tunjukkan bahwa aku daftar teratasmu. Ya, merasa dipentingkan itu memang selalu mewah.
Atau mungkin juga karena kau yang sudah jadikanku rencana besarmu. "Jangan ke mana-mana" sudah seperti kopi hitam bagimu, tak pernah kau lewati harimu tanpa itu.
Ya, atau mungkin juga karena pada suatu titik, semua akan butuhkan sesuatu di atas rasa nyaman: rasa aman. Dan yang kusadari aku bersama orang yang tepat.

Di dua pasang tangan terselip doa dengan nama satu sama lainnya. Apapun isinya, yang terpenting dua pasang mata tertuju pada garis akhir yang sama. Perbedaan cara pandang, tak jadi soal. Selama tetap saling jadikan tujuan, yang berjauhan, akan saling menemukan.
Yang kuharap sekarang sampai nanti adalah dua hati yang saling bersyukur. Karena pada akhirnya, Tuhan akan persatukan dua yang bersyukur, dan saling mensyukuri keberadaan satu sama lain.
Pun jika langkah ini nanti tidak diizinkan bersisian, aku akan berjalan berseberangan, melihat dari kejauhan, 'tuk memastikanmu sampai tujuan.

Terima kasih telah menjadi seseorang yang merangkap banyak sekali.
Dan terima kasih untuk tetap ada, Bima Azhar Nugroho. Aku dan segalaku, bersyukur atasmu.
Forget forever. Just love me al(l-)ways.


Aku, yang (biasanya) realistis

Minggu, 03 Februari 2013

Tujuh Tahun

Selamat malam kamu.
Entah, malam ini terkhayal tentang kamu, yang padahal belum kumengerti bagaimana mengkhayalkanmu. Entah, malam ini terbayang akan kamu, yang padahal belum kupahami bahkan bayanganmu.

Kamu yang sering kubayangkan dan khayalkan, apa kau juga satu pikir denganku saat ini? Penuh tanya akan aku yang juga belum kau tahu siapa aku? Ah, aku saja mungkin yang terlalu tidak sabar melihat rupamu.

Kamu yang belum kutahu kapan kita dipertemukan, berada dimana kamu sekarang? Sudahkah berada di jalan untuk saling menemukan? Kalaupun belum, tak apa, nikmati saja dulu. Kalaupun masih singgah, pun tak apa, toh kita masih punya banyak waktu. Datanglah jika hatimu sudah utuh, karena aku tidak akan pernah izinkan kau berbagi. Dan menetaplah jika hatimu sudah nyaman, karena aku bukan lagi tempat singgahmu nanti.

Kamu yang belum kutahu bagaimana cara Tuhan pertemukan kita, jangan paksa Tuhan untuk cepat beritahu jalan kita. Tuhan bisa saja pertemukan kita dengan jalan yang tak disengaja, tak diduga. Yang kuyakin cara-Nya tak akan pernah salah. Tak apa, bukan, bila sedikit tak terduga jika bukakan jalan terindah?

Kamu yang belum kutau asal-usulmu. Ah, kau pasti orang yang sangat spesial nanti, yang akan merangkap menjadi segalanya untukku. Yang bersedia kubuat jengkel dengan tingkahku setiap harinya. Yang bersedia kubuat gemas dengan suasana hati tak tentuku tiap si bulan datang. Yang bersedia kuganggu lelapnya saat buah hati kita menempati perutku yang nantinya kian membesar. Yang bersedia untuk selalu ada.

Kamu yang belum kutahu bagaimana rupamu, jangan pernah putus asa dalam jalanmu menuju takdir kita. Aku tahu tidak ada jalan hidup yang mudah, tapi bolehkah jadikan aku, masa depanmu, sebagai alasanmu untuk segera bangkit tiap jatuhmu? Ketekunan, kesabaran, fokus, atau motivasimu, tak bisakah aku menjadi bagian dari antara itu? Dapat kujanjikan hari nanti di sisimu lewati setiap naik turunmu. Setiaku mendekap, sediaku mengangkat.

Kamu yang belum kutau namamu, mari benahi diri di sepanjang jalan saling menemukan. Kau persiapkan dirimu, dan aku memantaskan diriku. Bersediakah?

Kamu yang entah siapa kamu. Hal seperti apa yang kau pinta dariku? Aku hanya dapat janjikan hal kecil mungkin, tak apa? Membangunkanmu di setiap pagi dengan senyuman, agar kau mulai harimu pun dengan senyuman. Ibadah subuh berjamaah, sudah pasti kau imamnya. Ah, kau pasti imam terbaikku nanti. Siapkan baju kerjamu, rapikan kemejamu, dan pakaikan dasi untukmu, tak peduli kau bisa atau tidak kerjakan semua itu, aku hanya ingin tangan kecilku berguna untukmu. Menyiapkan asupan pagimu yang akan beri tenaga harimu mencari nafkah, tidak akan kuizinkan kau keluar mencari nafkah jika perutmu kosong. Lalu kulanjutkan dengan mengantar si kecil menuntut ilmu. Ah, dia pasti sangat lucu dengan seragam sekolahnya. Dan jika matahari mulai menantang di atas kepala, akan kuingatkan kau sudahi dulu urusanmu, dan pikirkan badanmu dengan asupan siangmu. Akan kumasakkan untukmu jika kau ada waktu pulang ke rumah sebentar untuk makan denganku dan anak-anak. Dan malam hari nanti saat kau pulang, kupasti siapkan senyum termanisku sambut kau yang pasti lelah bekerja, sudah ada teh hangat untuk kau minum, dan air hangat untuk kau mandi. Sementara kau mandi, aku membacakan dongeng sebentar untuk si kecil agar dia terlelap karena esok pagi dia masih harus pergi sekolah. Dan sisa malam akan kudengarkan keluh dan riangmu ceritakan bagaimana sepanjang harimu berjalan. Kusiapkan dekapku untuk setiap keluhmu, dan senyum bahagiaku untuk setiap riangmu. Dan kita pun menjadi sepasang yang saling selalu ada.

Kamu yang belum kutahu apa kesukaanmu, jika aku meminta sesekali bersenang-senang, bolehkah? Kita dan anak kita menapaki sisi bumi lain untuk nikmati keindahan dan waktu bersama tanpa ganggu. Mengganti penat dengan hangat. Boleh?
Jangan khawatir, akan kusesuaikan dengan kemampuan kita. Tak akan kupinta yang kita tak punya, anggap saja ini janjiku.

Kamu yang saat ini belum datang, mari saling sempurnakan masing-masing yang tidak sempurna nanti. Imanmu, kuandalkan untuk sempurnakan imanku. Wawasanmu, kuandalkan untuk sempurnakan pikiranku. Logikamu, kuandalkan untuk seimbangkan hatiku. Lenganmu, yang kuandalkan menjadi sandaran lelahku. Dekapmu, yang kuandalkan menjadi penenang resahku. Bahumu, yang kuandalkan menjadi tempat merebah manja. Dan senyum dan suaramu yang kuandalkan menjadi penyemangat hariku.

Kamu yang telah Tuhan persiapkan untukku, tak perlu kau tergesa-gesa, aku akan menunggu hari dimana kau datang dan membawa bingkisan berupa bahagia dan senyum termanismu. Namun ketika aku yang tidak akan lelah menunggumu ini sedang berdoa agar kau tidak tersesat, pastikan dirimu agar hatimu yakin akulah tujuan terakhirmu.

Tujuh tahun bukan waktu yang singkat untuk kau persiapkan diri, namun bukan pula waktu yang panjang untuk kau mencari.
Sampai jumpa nanti!

Tertanda, Rumahmu.

Rabu, 26 Desember 2012

Terima Kasih

Terima kasih, darimu aku belajar banyak hal.
Aku belajar bagaimana nomor satunya keluarga, apapun yang terjadi.
Belajar bahwa jalan hidup memang tidak selalu mulus, namun yang kita harus lakukan adalah tetap terus berjalan.
Belajar bahwa dunia tidak ingin tahu apa yang sedang terjadi, jadi tersenyumlah tanpa rengut.
Belajar dari kobar semangatmu kejar impianmu, demi masa depan yang dicita-citakan.
Belajar untuk tetap menikmati hidup, bagaimanapun hidup perlakukan kamu.

Terima kasih, karenamu aku belajar banyak hal.
Aku belajar arti pengorbanan untuk orang yang kusayang.
Belajar untuk memaafkan, karena orang yang kita maafkan lebih berarti dari sekedar kata maaf.
Belajar untuk lebih dewasa pikirkan segalanya, hingga akhirnya terbentuk aku yang sekarang.
Belajar untuk tidak menggantungkan apapun pada siapapun jika tidak mau kecewa.
Belajar untuk memahami dan memaklumi, apapun yang terjadi.

Terima kasih, karena kita aku belajar banyak hal.
Aku belajar bahwa banyak hal yang tidak bisa dipaksakan.
Belajar saling merelakan untuk masing-masing kebahagiaan.
Belajar lipat dan simpan rapi kenangan dalam lemari memori.
Belajar tersenyum berdamai dengan dunia yang baru.
Belajar untuk siap menerima kita kembali dalam kata yang bukan lagi kita.

Terima kasih. Darimu dan karenamu aku banyak berubah, bentuk aku yang lebih baik. Dari kita dan karena kita aku banyak belajar, bentuk aku yang lebih berdamai dengan nyata. Dan darimu dan karena kita aku banyak mencoba, hingga bentuk aku yang lebih membuka mata.

Penuh pelajaran adalah deskripsi hebat dari kita yang lalu. Ajarkan begitu banyak hal, terima kasih. :)

Selasa, 18 Desember 2012

Teruntuk Kamu

Teruntuk kamu penguatku pada lampau,
Kau hebat,
beriku kuat di setiap semangat
buatku senyum di setiap hasil
beriku tunduk di setiap doa
buatku malu di setiap asa yang kubiar putus.

Teruntuk kamu penguatku pada lampau,
Jadikanku penguat, itu kurangmu, yang juga rinduku.
Kau lupa, ya? Sudahlah, mari anggap saja begitu.
Agar kuanggap manusiawi hingga memaklumi sudah tuntutan.

Teruntuk kamu penguatku pada lampau,
Hentikan rinduku dan hilangkan kurangmu adalah jalan yang kini kita tapaki,
yang mungkin semesta memang sudah sediakan.
Lega sedikit, bukan?

Teruntuk kamu penguatku pada lampau,
Jika yang lain kini beriku kuat, apa boleh?
Jika yang lain jadikanku penguat, apa boleh?
Jika yang lain kujadikan penguat, apa (sudah) boleh?

Minggu, 18 November 2012

You

Halo sayang,
Kita adalah bibir-bibir yang saling berpeluk setelah saling membentak.
Namun saat bahagia, cinta selalu lupa kalau sakit juga mengiringinya.
Keyakinanmu yang mengagumkan, tak sekalipun melibatkanku dalam masa depan yang kau perhitungkan
Hingga akhirnya, meninggalkanmu menjadi satu-satunya cara bagiku menyayangimu
Jujur, aku ingin cintamu yang tanpa membunuh kehidupanku
Aku tidak marah, hanya mencintaimu dalam lelah
Ya aku tahu, aku harus belajar mencintaimu, lebih tulus lagi.
Anggap saja melepasmu ialah salah satu caraku menghadiahimu kebahagiaan
Tenang, kusediakan doa yang diam-diam memelukmu dari belakang
Kita pernah belajar tentang menemukan. Sekarang waktunya belajar tentang kehilangan.
Katanya, ada yang baru benar-benar paham setelah ditinggalkan,
ada juga yang baru benar-benar paham setelah meninggalkan
Ku harap, tak akan ku paham apapun hingga tak ada rasa sesal lewati hari-hari kemarin
Hanya lebih bahagia ku harap untuk selanjutnya
Lalu kini yang kau harap, bibirku yang berucap sampai jumpa.....atau selamat tinggal?
Jangan pernah lupakan setitik keberadaan yang ku usahakan dalam langkahmu lalu
Karena bila tuhan berkenan, kita akan bertemu lagi dan menemukan banyak alasan untuk bertahan.

You should be free of me, you may find another home, a better one. I hope you'll do well in everything, there. :)

Jumat, 24 Agustus 2012

Perbincangan

Apa iya ini semua hanya soal letak titik yang sudah tidak lagi satu pada peta?
Bila begitu, mengapa masih saja tersebut namamu dalam setiap bincangku dengan Tuhan?
Tidak, bincangku dengan Dia Yang Kuasa tak pernah sebut letak titik.
Tenang saja, ini bahagiamu untuk masa depanmu....yang mungkin juga masa depanku.
Jika kau baca, kupastikan bibir merah jambu agak gelapmu sedang berkata, "Perjalanan kita masih panjang, sayang."
Oh, tentu saja, Manis. Aku juga percaya itu.
Itu bukan sebuah harapan, hanya pernyataan hidup yang bahkan malaikat suci di atas sana pun tak paham.
Kau juga selalu setuju, bukan, tentang 'jalan hidup siapa yang tahu'?
Ya, jika ini bahagiamu, untuk apa lagi ku pinta Tuhan ubah? Tak perlu, bahagiamu cukup.
Jika kau masih membaca, dahimu pasti sedang berkernyit, bertanya-tanya, "Lalu apa yang kau bincangkan dengan Tuhan?"
Mari kuberitahu sedikit.
Oh, tenang saja, Manis, tidak perlu khawatir tentang kata orang yang bila do'a diucap maka mustahil terkabul.
Itu harapan pada bintang jatuh, sedang aku berharap pada Tuhanku yang tidak kolot penuh syarat kuno.
Isi bincangku adalah pintaku tentang kamu.
Lagi, kuanjurkan kau tenang saja, itu bukan pintaku akan kamu, melainkan pintaku tentang kamu. Pahami.
Kupinta Tuhan.....ah, sudahlah, ini sudah malam, biar kubisikkan saja semua isi pintaku dalam bunga tidurmu malam ini.
Selamat malam. :)

Minggu, 22 Juli 2012

Dear You

You know what, ever since whenever, I've kept thinking "why did God send you to me at that time 'till this very moment?"
At first I haven't understood why, but eventually, I know. God was answering me, "This boy doesn't have any idea how much he can accomplish once he starts fighting for things that truly matter to him." and I'd say I completely agree with Him.
What He means with bravery isn't going after things because you can do them, but going after even the toughest and the most impossible of dreams knowing that God is with you.
I still sincerely and wholeheartedly belive you can actually move gazillion mountains if you truly believe in yourself and in God's power to move mountains with and through you. I'm writing this so that whenever you're down and close to the edge, you'll know that somewhere in this world, someone believes that you can make it :)
I'm excited for you and your battles. I know God will purposely scar you more and I pray that all your scars will lead you to where you're supposed to be.
Good luck in running the race and may you see that in the end, all odds are in your favor if you let them be :)
Then....I know what God's purpose is. To show you that I'm here. I'm not good at stringing words to support you, but I'll always be here to be that someone who believes that you can make it :)
Yang terbaik dan terindah, kuiba dalam doa untuk bahagiamu; detik ini dan nanti. Tersenyum dan teruslah mengejar mimpimu.
Kutitip doa untuk suksesmu, segera. Amien...

With love